Tuesday, March 15, 2011

Hemat Kertas & Tinta = Menyelamatkan Bumi Kita!!! (Part 2)


Sudah dapat tips soal hemat kertas dong. Sekarang gimana nih caranya menghemat tinta? Apalagi dengan harga tinta original yang semakin mahal, kalo mesti beli yang baru tiap kali tinta habis kan bisa bangkrut. Meski saat ini sudah ada banyak tersedia produk isi ulang tinta non-original, tapi tetap saja hal pokok yang mesti diingat adalah bagaimana supaya kita bisa lebih berhemat memakai tinta dan gak mesti isi ulang sering-sering.

Ada satu hal sederhana yang perlu kamu perhatikan jika ingin mencetak lebih hemat. Memilih jenis font yang tepat ternyata bisa membantu kamu menghemat tinta printer/toner yang kamu pake'. Contoh paling nyata nih di bawah.


Beda sekali kan? Bandingkan banyaknya tinta yang dibutuhkan buat mencetak dokumen yang jenis hurufnya seperti font Impact, bila dibandingkan dengan jenis huruf Courier New. Padahal kedua jenis huruf di atas belum diubah jadi bold.

Nah, selain pintar milih jenis huruf dokumen untuk mencetak, sekarang tersedia satu jenis huruf yang memang dirancang khusus sebagai bentuk aksi penghematan mencetak dan ramah lingkungan, karena memang membutuhkan lebih sedikit tinta. Font ini namanya ECOFONT, bisa didownload dari http://www.ecofont.com/en/products/green/font/download-the-ink-saving-font.html. Setelah didownload, masukkan file font tersebut ke C:\Windows\Fonts.

 Halaman Ecofont

 Contoh tulisan menggunakan jenis huruf ecofont_vera_sans

Ecofont  bebas digunakan, dan bisa menghemat penggunaan tinta sampai 20% dari pada font standar lainnya. Memang sih, fontnya kurang begitu cantik dan menarik dibanding jenis font yang lain. Jadi, untuk penggunaan font ini tidak dianjurkan untuk dokumen-dokumen resmi apalagi untuk sampul tulisan resmi. Tapi untuk mencetak sesuatu hanya untuk konsumsi pribadi, kamu bisa coba font ini.

Hemat Kertas & Tinta = Menyelamatkan Bumi Kita!!! (Part 1)

Setiap hari kamu berkutat dengan kertas? Mencetak ini itu? Salah cetak, trus cetak ulang yang baru? Sepertinya kebiasaan seperti ini harus segera kamu kurangi! Ingatlah bahwa aktvitas mencetak yang sembarangan dan boros akan sangat menguras isi kantong, dan tentu saja kamu ikut ambil bagian dalam menurunkan kualitas lingkungan!

Kalo gak percaya, coba deh itung-itung. Sekarang harga kertas berapaan se-rim-nya? Kalo di toko grosir, A4 sekitar Rp30.000, F4 bisa dapat Rp35.000, dan QS bisa sampe Rp28.000. Semakin banyak buang kertas, berarti semakin sering beli dong! Selain isi kantong cepet habis, produksi kertas akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan kertas. Berarti akan semakin banyak pohon dan bambu yang ditebang untuk dijadikan bahan baku kertas. Sementara untuk nunggu satu pohon siap tebang bisa sampe puluhan tahun. Bisa liat dong, sekarang hutan Indonesia yang menjadi salah satu paru-paru dunia sudah semakin berkurang.

Gimana bisa berhemat??? Sederhana kok! Kalo mau mencetak dokumen, jangan lupa untuk memperhatikan editan dokumen dengan seksama, supaya hasil cetakan gak salah dan mesti mengulang untuk mencetak. Bisa hemat kertas, tinta, dan listrik. Kedua, untuk dokumen-dokumen yang tidak resmi, kamu bisa cetak timbal-balik untuk menghemat kertas dari pada mencetak hanya satu halaman tiap lembarnya. Atau, untuk kamu mahasiswa yang mau ujian dan butuh untuk mencetak bahan kuliah, kamu bisa pake' kertas bekas yang satu sisinya masih kosong, jadi gak perlu beli kertas lagi. Hemat dong!!!

Ini contohnya. Waktu praktik komunitas, kami buat lembar kuesioner dari kertas bekas lho (berhubung tempatnya di pedesaan tanpa fasilitas foto kopi). Kami malah siapkan memang dari rumah kertas bekasnya. Hemat dong!!!

Nah, jadi gak ada kata gak bisa dong untuk melakukan sesuatu buat menyelamatkan bumi ini. Memulai kebiasaan kecil seperti ini bisa berdampak besar lho buat bumi kita. Buktinya, makin banyak juga teman-teman yang ikutan make kertas bekas buat mencetak dokumen yang memang gak resmi. Ayo, mulai sekarang coba lakukan menjadi kebiasaan. Pilih bumi selamat! Aksi kecil dimulai dari kita!!!

Friday, December 11, 2009

Jaga Lingkungan dengan Biopori!

Biopori adalah lubang resapan air yang dibuat khusus untuk menjaga ketersediaan air dalam tanah dan mencegah banjir. Cara kerja lubang ini adalah dengan adanya sampah organik dalam lubang biopori, akan memancing organisme pengurai dalam tanah untuk menguraikan sampah organik. Kehadiran organisme pengurai ini akan membantu menggemburkan tanah dan membuat pori-pori/lubang-lubang baru yang semakin banyak, yang pada akhirnya akan memudahkan air untuk meresap ke dalam tanah.
Cara membuat lubang biopori ini cukup mudah.
  1. Buat lubang secara vertikal selebar 10 cm, dengan kedalaman 80-100 cm.
  2. Untuk pinggiran lubang, dapat diperkuat dengan semen selebar 2-3 cm dan tebal 2 cm.
  3. Isi lubang dengan sampah-sampah organik sampai penuh (sampah dapur, daun-daun, rumput, dan sampah lainny).
  4. Jika sampah dalam lubang resapan sudah mulai berkurang, isi kembali dengan sampah organik yang baru (biasanya dalam kurun waktu 2-5 hari).
Manfaat
Lubang biopori ini sangat bermanfaat terutama dalam menjaga lingkungan tetap sehat.
  • Menjaga ketersediaan air tanah karena fungsi utamanya adalah sebagai lubang resapan air.
  • Mencegah banjir secara tidak langsung karena air hujan akan banyak meresap ke dalam tanah, sehingga mengurangi air mengalir di permukaan.
  • Menggemburkan tanah sehingga tanah bisa tetap sehat.
  • Mengurangi limbah sampah rumah tangga. Satu lubang resapan dengan diameter 10 cm dan kedalaman 100 cm dapat diisi dengan sampah organik sebanyak 7,8 liter. Bayangkan dampaknya terhadap lingkungan. Polusi lingkungan bisa dikurangi. Jika setiap rumah memiliki satu saja lubang resapan, berarti setiap rumah bisa berkontribusi mengurangi sampah sebanyak 7,8 liter.
  • Sebagai pabrik pupuk kompos alami, lubang resapan ini akan menghasilkan pupuk kompos hasil penguraian oleh organisme pengurai dalam tanah. Dalam waktu 3 bulan biasanya pupuk kompos ini bisa dipanen. Jadi, bisa hemat lagi untuk penyediaan pupuk tanaman rumah.
Lokasi Pembuatan Biopori
Untuk lokasi pembuatan lubang biopori ini, dapat dibuat di halaman rumah, perkantoran, lapangan parkir, parit/selokan yang berfungsi hanya untuk aliran pembuangan air hujan saja, atau di kebun dan areal terbuka lainnya.
Selain untuk meresapkan air hujan, lubang resapan ini juga dapat diisi dengan air selokan yang tergenang. Jadi, meskipun hujan tidak turun, air limbah rumah tangga dapat dialirkan ke dalam lubang resapan, sehingga bisa lebih membantu ketersediaan air tanah.
Penting untuk memperhatikan sampah yang dimasukkan ke dalam lubang resapan adalah sampah organik, bukan non-organik seperti plastik, kaleng, dll, karena nantinya tidak akan diurai oleh organisme pengurai.

Sumber: Jakarta.go.id; Tim Biopori IPB

Friday, November 27, 2009

Earth Hour Pertama di Indonesia! Up Coming on 2010!

Earth Hour??? Apaan tuh???




Mungkin Anda bertanya-tanya, apa Earth Hour itu. Saya sendiri pun baru saja tahu sendikit tentang Earth Hour. Awalnya sekedar mengunjungi situs WWF Australia (www.wwf.org.au) untuk mencari suatu artikel yang pernah dipublikasikan melalui siaran berita pagi BBC Indonesia (saya lupa edisinya, tapi sekitar bulan Oktober lalu). Artikel yang saya cari menyangkut laporan WWF mengenai kondisi air laut yang semakin naik dari tahun ke tahun, dan ancaman global yang jika tidak ditanggulangi segera, dalam kurun waktu 5-10 tahun, kerusakan yang ada di bumi ini sudah tidak dapat lagi diperbaiki. Sambil membaca artikel tentang Dhaka, Manila, dan Jakarta sebagai kota terancam (lihat post sebelumnya), saya lalu tertarik dengan link hitungan waktu/countdown di bar kanan halaman WWF itu. Dan di bawahnya tertera Vote Earth; Earth Hour. Awalnya, saya hanya sekilas berpikir tentang waktu khusus untuk bumi, semacam waktu hymne atau apalah. Saya juga belum tahu tentang WWF Indonesia.

Karena tergerak untuk membuat blog lagi tentang kampanye penyelamatan bumi, saya kembali mengunjungi situs WWF, dan baru terlihat ada link sites dan saya berpikir mungkin saja ada link untuk Indonesia. Dan ternyata memang ada WWF Indonesia. Di situs ini pula saya baru mengerti tentang Earth Hour.

Jadi, Earth Hour, maksudnya adalah kampanye penyelematan bumi dengan mematikan listrik selama satu jam secara serempak di seluruh dunia pada hari Sabtu, tanggal 27 Maret 2010, pukul 20.00-21.00 waktu setempat. Ini dimaksudkan sebagai bentuk pengurangan efek penggunaan listrik di bumi. Untuk pertama kalinya di Indonesia, Earth Hour ini dilaksanakan baru di kota Jakarta. Alasannya karena 20% dari konsumsi listrik di Indonesia terkonsentrasi di Jakarta.

Mengapa satu jam?

Hmm, alasan jelasnya, saya pun tidak sepenuhnya mengerti. Tapi bila ditengok kembali pola hidup modern saat ini, hidup tanpa listrik selama beberapa menit saja terasa sangat sulit. Apalagi seluruh kegiatan dan peralatan yang ada saat ini hampir semua menggunakan listrik sebagai sumber energi. Tapi, menurut pihak penyelenggara, memadamkan lampu di Jakarta selama satu jam sama dengan:  
  • Mengurangi penggunaan listrik sebesar 300MW (cukup untuk mengistirahatkan 1 pembangkit listrik dan menyalakan 900 desa)  
  • Mengurangi beban biaya listrik Jakarta sekitar Rp 200 juta  
  • Mengurangi emisi sekitar 284 ton CO2  
  • Menyelamatkan lebih dari 284 pohon  
  • Menghasilkan O2 untuk lebih dari 568 orang


Lalu?


Nah, tentu saja ini merupakan langkah yang sangat positif untuk membantu menyelamatkan bumi. Banyangkan saja, jika seluruh warga kota yang turut berpartisipasi secara global mematikan lampunya secara serempak selama satu jam, itu bisa berarti mengurangi penggunaan listrik sebesar 4.000 x 300MW atau mungkin lebih, mengingat jumlah kota yang berpartisipasi tahun 2009 sebesar 4.000 (belum termasuk Jakarta) dan banyak kota yang lebih besar dari kota Jakarta. Bisa membantu mengurangi emisi, menciptakan udara yang lebih bersih, dan sebagai bentuk refresh bagi bumi.

Jadi, buat Anda penghuni kota Jakarta, AYO! JADILAH BAGIAN DARI 1 MILYAR WARGA DUNIA DALAM MISI PENYELAMATAN BUMI. HANYA SATU JAM! Aksi ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Jakarta. Pada saat yang bersamaan, lampu-lampu di bangunan bersejarah seperti Monumen Nasional (Monas) serta di beberapa ciri khas kota Jakarta lainnya, seperti Patung Pemuda, Jembatan Semanggi, Bundaran HI, Air Mancur Arjuna Wiwaha dan tak terkecuali kantor gubernur balaikota akan dipadamkan. Buat Anda di luar Jakarta, Anda pun bisa berpartisipasi! Ajak teman, keluarga, dan siapa saja untuk berpartisipasi dalam aksi penyelamatan bumi ini.

PILIH BUMI SELAMAT atau SEKARAT? PILIHAN ADA DI TANGAN KITA! SAYA PILIH BUMI SELAMAT!!! ANDA???


Monday, November 16, 2009

Dhaka, Manila dan Jakarta top list kota besar Asia yang terancam iklim brutal di masa akan datang

WWF, 12 November 2009

 Dhaka, Manila, dan Jakarta adalah tiga kota besar teratas di Asia yang iklimnya akan terancam dari 11 kota besar menurut ranking WWF. WWF mengatakan bahwa negara berkembang dan negara maju harus bekerja sama untuk mempersiapkan ketiga kota besar tersebut menghadapi iklim brutal di masa akan datang. Berdasarkan Mega-Stress for Mega-Cities, ada banyak kota yang telah diketahui akan mendapat masalah iklim yang ekstrim seperti badai dan banjir, sementara penduduk dalam jumlah besar dan asset-aset yang dipertaruhkan berada dalam level yang mengkhawatirkan, terkait kepekaan sosio-ekonomi. Pada waktu yang bersamaan, kota-kota tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk melindungi diri sendiri dari pengaruh badai yang merusak.

Laporan WWF meliputi 11 kota urban di wilayah Asia, semua terletak pada area pesisir (coastal) atau delta sungai. Termasuk Dhaka (9 poin kemungkinan terancam), kota lain yang berisiko tinggi yaitu Manila dan Jakarta (masing-masing 8 poin), Kalkuta dan Phnom Penh (masing-masing 7 poin), Ho Chi Minh City dan Shanghai (masing-masing 6 poin), Bangkok (5 poin), dan Kuala Lumpur, Hong Kong, dan Singapura (masing-masing 4 poin).

“Asia sedang mengalami urbanisasi secara cepat, dan kita dapat yakin bahwa wilayah urban akan menjadi wilayah yang secara krusial harus berjuang untuk melawan perubahan iklim”, kata Kim Carstensen, Leader of the WWF Global Climate Initiative. “Kota-kota tersebut bertanggung jawab terhadap sebagian besar konsumsi energy dunia dan emisi gas rumah kaca, tapi mereka juga menjadi pionir ketika menghasilkan solusi pembangunan yang inovatif. Kita tidak boleh membiarkan mereka akan perubahan ilkim. Malah, kita harus mendorong mereka untuk menjadi agen perubahan dan melindungi baik area rural dan urban dari pengaruh yang merusak”, tambahnya.

Laporan WWF ini juga termasuk rangking untuk sub-kategori seperti pemaparan lingkungan, sensitivitas sosio-ekonomi, dan kemampuan adaptif. Kota-kota yang miskin sering kali terbatas dalam kemampuan adaptif dan berperan besar dalam penentuan ancaman secara keseluruhan. 

"Para pemimpin dari kota-kota Dhaka, Manila, dan Jakarta membutuhkan dukungan segara dari rekan-rekan. Adapatasi jangka pendek dan jangka panjang yang efektif akan sangat bergantung pada dukungan financial, kerjasama teknologi, dan kemampuan pembangunan”, kata Carstensen.